Siklus Produksi Ayam Petelur Dan Pemasarannya

Walaupun DOC bagus, tetapi pakan bermasalah, produksi ayam akan tetap buruk. Demikian juga kalau lingkungan buruk, misalnya pada kondisi cuaca musim pancaroba, beberapa penyakit seperti ND (New Castle Disease), IB (Infectious Bronchitis), dan AI (Avian influenza) pun dapat menyerang ayam saat dalam masa bertelur. Untuk mengetahui dan memantau kondisi ayam ini, dapat dilakukan pengecekan secara rutin. Selain itu, peternak juga pertu mencatat jumlah telur yang dihasilkan setiap harinya. 


Perubahan cuaca yang tak menentu dapat berakibat ayam stres. Pada kondisi stres, beberapa penyakit akan menyerang ternak. Pencatatan semua hal ini menjadi penting. Dalam hal ini, peternak perlu mencatat asupan pakan bagi ternak, catatan pernafasan, kondisi telur, terutama kondisi kerabangnya. Mungkin produksi telur tidak langsung turun, namun kualitas kerabang tetap penting pengaruhn ya, apakah kerabang tersebut berwarna pucat dan seterusnya, yang ujung-ujungnya dapat menurunkan produksi dan kualitas. 

Siklus produksi telurdimulai pada saat ayam berumur 17 minggu, masa ayam mulal belajar bertelur. Pada umur 18 minggu, ayam akan mengalami 1- 2 produksi. Hal ini dipengaruhi oleh manajemen penyinaran. Saat ayam berumur 19 minggu, produksi telurnya sebesar 10 persen. Selanjutnya saat ayam berumur 20 minggu, produksinya mencapai 80 persen, tergantung manajemen penyinaran tersebut.

Puncak produksi, masa umumnya produksi telur (henday) mencapai hampir 100 persen, tercatat pada saat ayam umur 25-27 minggu atau 26 minggu. Rata-rata kisaran henday tersebut sebesar 94-95 persen. Perhitungannya adalah produksi telur perpopulasi ayam. Seekor ayam dapat bertelur sebutir setiap hari (24 jam). Dengan pencatatan henday tersebut, dapat diketahui berapa besar produksi telurnya. Penurunan-penurunan produksi telur juga harus dicatat dan dipertimbangkan dengan kondisi-kondisi yang ada.

Sebagai contoh, penurunan produksi telur sebesar 5 persen tersebut karena ayam terjangkiti penyakit IB. Peternak sebaiknya tidak hanya mencatat turunnya pakan, tetapi juga mencatat gejala klinisnya. Setelah masalah IB teratasi, naiknya jumlah produksi tergolong pelan dan 10 persen menjadi 27 persen, padahal seharusnya bisa naik 20 - 30 persen. Pengamatan dan pencatatan kondisi ini jangan sampai salah, sebab dapat membuat diagnosis bandingnya jti,1ì ikut salah. Misalnya, gejala klinis IB dikelirukan dengan ND.

Apa pun masalah ayam pada masa produksi, umur produksi puncak ayam ini tetap ada yang empat bulan, tiga bulan, dua bulan bahkan satu minggu. Sedangkan untuk masa berhenti produksi, ada yang berumur 100 minggu, 90 minggu, 80 minggu, hingga afkir. Kondisi ini tergantung situasi dan kondisi, yang bila peternak rajin melakukan pencatatan akan dapat diketahui secara jelas. Sayangnya peternak banyak yang tidak punya pencatatan. Bahkan untuk henday pun banyak peternak yang tidak melakukan pencatatan.

Pencatatan jelas sangat penting untuk mengetahui produksi telur harian dengan hitungan telur dipengaruhi oleh perhitungan pakan dan sebagainya. Dari situ, akan jelas bahwa produksi telur dipengaruhi oleh manajemen secara umum, termasuk pengelolaan kesehatan ayam, biosecurity, manajemen pakan, dan lain-lain. Sejauh mana manajemen ini akan berpengaruh pada produksi telur, itu tergantung bahan pakan, pullet, keseragaman telur, berat telur, besar telur. Bila semua hal ini terjaga secara bagus, produksi telur lebih dari 80 persen dapat dipertahankan.

Pakan memiliki peran besar dalam hal pembiayaan budidaya ayam. Besar biaya pakan berkisar 70 persen dari biaya produksi secara keseluruhan. Oleh karena itu, kualitas pakan dapat mempengaruhi untung rugi dan budidaya ayam ini.

Dengan pencatatan ini, peternak akan mengetahui kondisi ayam, sehingga peternak dapat memprediksi produksi telur dan ayam-ayam tersebut. Misalnya, kondisi ayam yang bagus sejak DOC sampai pullet akan mampu memproduksi telur dengan baik. Namun gangguan pun dapat muncul saat masa pullet. Maka berbagai kemungkinan juga dapat terjadi pada produksi. Misalnya sampai masa pullet ayam tidak sakit, berat badan bagus, intake pakan bagus, tetapi di tengah jalan ayam mengalami stres atau terjangkit penyakit. Faktor-faktor ini bisa mengganggu performa produksi. Oleh karena itu, tindakan penanggulangan harus dilakukan.

Untuk meminimalkan penyakit, umumnya peternak melakukan vaksinasi dan biosecurity. Peternak yang disiplin umumnya melaku kan vaksinasi secara lengkap. Setelah produksi pun, vaksin pantang diotak-atik.

Jelas, faktor pakan yang bagus, biosecurity, vaksinasi, dan manajemen komprehensif harus dilakukan agar produksi terjaga.

0 komentar:

Posting Komentar