Perlunya Kedisiplinan Dalam Program Pemeliharaan Ayam

Dan pengalaman seorang penanggungjawab kesehatan hewan di sebuah grup peternakan di Singkawang, Kalimantan Barat, dapat diambil kesimpulan bahwa titik kritis pemeliharaan ayam petelur terletak pada disiplin program pemeliharaan yang diterapkan. Salah satu peternakan yang menjadi tanggung jawabnya adalah peternakan unit 5. Pada saat itu, bibit ayam atau DOC tengah dimasukkan sejumlah 40.000 ekor. Sebelumnya juga telah masuk 40.000 ekor. Kesadaran dari pengetahuan terhadap tugas sejak awal pemeliharaan ini patut dimiliki oleh para pekerja kandang. 

Penerapan program secara baik dan disiplin akan membuat peternak selalu yakin saat memasukkan ayam ke kandang lagi. Pekerja yang mengerti pekerjaan ini akan mendukung peningkatan kualitas kinerja, produksi, serta hasilnya. Kebutuhan tentang hal ini sangat terasa di peternakan di Kalimantan Barat. Lantaran, kualitas SDM (sumber daya manusia) di sini belum sebaik kualitas SDM di Jawa. Maka, menjadi tugas dan tanggung jawab dokter hewan lapangan untuk terus membimbing para anak kandang atau SDM tersebut.

Dengan demikian, program yang dicanangkan dalam pemeliharaan ayam sejak awal masa pemeliharaan selalu dijaga dengan alur berpikir yang benar. Alur berpikir yang benar ini menjadi lokomotif dan setiap tindakan manajerial di unit-unit kandang. Alur berpikir benar ini antara lain pada tiap pergantian pakan harus ada koordinasi. Koordinasi yang berjalan baik ini bertujuan untuk menjaga mutu pakan ayam tetap berada di puncak kualitas. Jangan sampai pakan rusak diberikan pada ternak.

Rupanya para pekerja tersebut belajar dari pengalaman sebelumnya, yakni peternak pernah mengganti pakan tanpa adanya pemberitahuan. Hal ini menyebabkan manajemen peternakan menjadi kacau, yang akhirnya berpengaruh pada terganggunya produksi ayam. Pada saat itulah kemudian ahli ternak mengoreksi pemberian pakan itu sesuai dengan kaidah ilmu yang benar. Mereka memberi kan vitamin khusus untuk ayam yang bermasalah akibat pemberian pakan yang tidak benar itu. AIhasil, tiga hari kemudian, setelah pakan ayam ditambahi vitamin, produksi kembali stabil. Kematian pun berhenti, lalu setelah itu berat badan ayam naik.

Kasus kematian pada ayam peternak harus ditangani sebaik baiknya, jika perlu hingga berhenti sama sekali. Hal ini merupakan syarat mutlak agar ayam yang hidup dapat ditangani untuk kemudian meningkatkan produksi. Kemungkinan, dehidrasi pun dapat saja terjadi dan menyebabkan kematian pada ayam masa produksi. Artinya, bila hal ini tidak ditangani maka akan berakibat fatal.

Disiplin dalam program pemeliharaan juga berarti disiplin untuk memantau kondisi kesehatan ayam. Dalam hal ini, mutlak dibutuhkan keahlian mendiagnosis setiap kelainan dan penyakit ayam. Salah satu contoh kasus kekeliruan diagnosis pernah terjadi, yakni kasus penyakit IB (Infectious Bronchitis) dikacaukan dengan diagnosis ND (Newcastle Disease). Hal ini lantaran terjadi kematian ayam akibat serangan ND sebelum ayam mencapai puncak produksi. Kondisinya, pada saat umur 30 minggu ayam sudah dikelilingi penyakit IB. Diketahuinya penyakit IB, bukan ND, adalah saat produksi telur anjlok pada saat ayam umur 34-36 minggu. Pada saat ayam berumur 40 minggu, kasus ini tidak lagi dapat ditangani jika kejadiannya sudah parah. Produksi pun akan gagal.

Selain kesaahan itu, banyak kasus lain mengenai kesalahan diagnosis dan penyakit ayam ini. Misalnya, suatu kasus didiagnosis AI (Aviafl Influenza), padahal kasusnya adalah ND diikuti IB. Kasus kasus semacam ini ditemukan pada semua unit yang dijumpai telah mengaiami kegagaLan vaksiflasi. Kesalahannya ternyata karena faktor manUSia.

Program dan keahLian yang dijaiankan secara tepat senantiasa bermanfaat. Hal ini ditUnjukkan saat peternak memutuskan revaksinasi ND pada kasus IB disertai kasus ND tersebut. RevakSinasi ND itu gunanya untuk mengatasi kasus kematian ayam yang disebab kan oleh serangan ND. Adapun, vaksinasi dilakukan dikandang yang berbeda tapi dengan program sama. Setetah direvaksinasi, memang rnungkinan kegagalannya hampir sama. Tapi setelah revaksinasi ND dilakukan, kasus kematian dapat diatasi. Ini merupakan keberhasilan pertama.

Keberhasilan kedua, adalah ayam direvaksinasi IB dan kese ragaman produksi telur yang telah rusak akibat serangan virus IB pun dapat teratasi. Kasus-kasus yang acapkali dijumpai di peternakan adalah 50 persen kasus produksi. Sedangkan yang 0,6 persen adalah kasus kematian.

Di sisi lain, apa pun programnya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing peternakan. Berhasil di satu peternakan, belum tentu sesuai dengan peternakan lainnya, unit peternakan lain pun pasti punya program tersendiri. Contohnya, di salah satu peternakan, perubahan program vaksinasi dibatalkan. Hal ini karena kondisi ayam di peternakan tersebut sudah baik. Peternak juga tidak boleh mengubah-ubah program sembarangan. Perhitungannya harus sangat cermat agar penurunan angka kematian dan kenaikan berat badan ayam bisa maksimal.

Memang program vaksinasi killed merupakan program yang masuk akal. Meskipun melakukan vaksinasi merupakan pekerjaan yang meletahkan, namun manfaatnya sangat besar. Dan penerapan program ini, akan dapat dicapai perbandingan angka kematian, berat badan, dan keseragaman badan ayam yang baik. Dalam arti, produksi ayam akan bagus. Kematian DOC sebesar 0,6 persen saja sudah termasuk kategori bagus. Demikian juga pemantauan pemeliharaan pullet sehari-hari harus selalu dilakukan agar nilai pemeliharaannya masuk kategori baik.

Begitulah tanggung jawab ahli kesehatan hewan dan timnya untuk setalu memantau kondisi ayam petelur yang dapat berubah dan waktu ke waktu. Bila pemeliharaan pullet saja tidak berhasil, maka peternakan dianggap gagal. Sebagaimana puta penanganan ayam di masa breeding, pullet dan broiler, harus mencapai katagori bagus.

0 komentar:

Posting Komentar