Faktor yang Mempengaruhi Mutu Daging

Umur
Potongan sapi pedaging umur lebih muda mutu dagingnya akan lebih baik dari pada sapi umur tua. Daging hasil potongan sapii muda warnanya merah terang, serabutnya halus, dan bila di masak lebih lezat dan empuk. Sebaliknya daging sapi tua kasar dan bila dimasak terasa alot atau liat. Umur pemotongan sapi potong di lakukan pada umur 2,5-3 thn( mature beef); 1,5-2 thn (young beef); dan 10-15 bulan (baby beef).

Kegiatan Sapi
Sapi pedaging yang sebelum dipotong terlalu banyak kegiatan bekerja hasil dagingnya berwarna merah tua, serabut dagingnya kasar dan menjadi lebih liat, sapi yang terlalu letih dagingnya berwarna gelap.

Kondisi Sapi

Sapi pedaging baik yang muda maupun yang tua harus berkondisi baik. Sapi yang dipotong dalam kondisi sehat hasil dagingnya akan bermutu lebih baik. Sapi yang di potong dalam usia muda tetapi kondisi badan tidak sehat dan kurus hasil dagingnya pasti akan jelek dan liat

Perlakuaan TerhadapSapi yang Akan di Potong

Semua sapi yang akan dipotong harus di perlakukan dengan baik. Sapi ditempatkan di tempat yang cukup tenang dan diberi kesempatan beristirahat cukup. Sapi yang didatangkan dari luar daerah harus di istirahatkan terlebih dahulu agar jiwanya tidak tertekan. Sapi yang mengalami perlakuaan kasar akan mengakibatkan goncangan jiwa yang berat. Sapi juga harus memperoleh jaminan makan dan minnum.

Kondisi Sapi.

Hasil potongan berupa karkas yang tidak dirawat dengan baik mengakibatkan mutu daging menjadi sangat rendah. OIeh karena itu, sebelum daging dipasarkan semua karkas harus dilayukan terlebih dahulu, yakni dilakukan dengan cara menggantungkan belahan badan di suatu tempat khusus yang telah tersedia.

Tujuannya agar sisa-sisa darah yang masih tertinggal di dalam jaringan daging bisa lepas Iebih cepat dan proses rigor mortis selesai dengan sempurna. Daging yang masih mengalami rigor mortis yang belum sempurna, jika direbus, menjadi hat. OIeh karena itu, setiap daging yang habis dipotong harus diistirahatkan pula, tidak boleh Iangsung dimasak. 

Jenis - Jenis Pakan Ternak Kambing

Kambing merupakan ternak yang mudah dalam persoalan pakan karena mudah didapat. Namun, ketersediaan pakan kambing di Indonesia berfluktuasi, berlimpah pada musim hujan, tetapi langka saat musim kemarau. OIeh karena itu, peternakan kambing komersial harus mampu mengantisipasi kondisi ini dengan tepat. Adapun pakan yang dapat diberikan pada kambing antara lain hijauan segar, jerami, dedaunan kering, suase, dan konsentrat. 

1. Hijauan segar 
Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan pada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu maupun yang tidak. Hijauan segar umumnya terdiri atas rumput-rumputan, biji-bijian (kacang-kacangan), dan daun-daunan. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati, dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi.

 a. Rumput-rumputan 
Rumput yang dapat diberikan sebagai pakan kambing antara lain rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput benggala (Penicum maximum), rumput setaria (Setaria sphacelata), rumput brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput meksiko (Euchiena mexicana), dan rumput lapangan yang tumbuh liar. Umumnya peternak rakyat menggunakan rumput liar yang tumbuh pada tanah kosong, di bawah pepohonan, atau tumbuh di sawah. Namun, sebaiknya peternak juga menanam rumput gajah sendiri di lahan kosong atau di bawah tanaman keras untuk memperkuat ketahanan pakan kambing, terutama saat musim kemarau tiba.

b. Kacang-kacangan 
Jenis kacang-kacangan yang dapat dijadikan pakan kambing, di antaranya lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Stylosantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides, dan jenis kacang-kacangan lain.

c. Daun-daunan 
Daun nangka, daun pisang, daun tun, dan daun petai cina merupakan jenis dedaunan yang dapat diberikan pada kambing sebagai pakannya. 

2. Jerami dan hijauan kering 
Termasuk ke dalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dar√° 18% (jerami, hay, dan kulit biji kacang-kacanga n). 

3. Suase 
Suase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar. Biasanya suase berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan. Suase sangat membantu ketersediaan pakan kam bing karena dapat diberikan kapan saja. Penggunaannya juga dapat meningkatkan efisiensi tenaga karena peternak tidak harus mencari hijauan setiap hari. 

4. Konsentrat (pakan penguat) 
Pemakaian pakan penguat sangat membantu peningkatan produksi kambing, baik pertambahan berat badan, anak kambing, maupun susu kambing. Untuk peternakan kambing komersial, sebaiknya menggunakan konsentrat lokal dan limbah pertanian, seperti dedak padi, jagung giling, bungkul kelapa, singkong, garam, dan mineral.

Tindakan - Tindakan Pencegahan Penyakit Pada Sapi Potong

1. Karantina Atau Isolasi

Karantina
Tindakan sementara yang dilakukan untuk ternak sapi dan luar yang masib diragukan kesehatannya.
Isolasi
Tindakan pemisahan untuk ternak sapi yang menderita penyakit menular di dalam kandang khusus yang jauh dan sapi sehat.

2. Vaksinasi, Deworming, Deticking

Vaksinasi 
Tindakan pengobatan untuk men ingkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi penyakit asal bakteri dan virus.
Deworming
Tindakan pengobatari atau pengeluaran cacing dengan obat-obatan kimia atau dengan bahan lain. Biasanya dilakukan 4 bulan sekali sesuai dosis anjuran. 
Deticking
Pembasmian atau pembebasan kutu-kutu dan ternak yang dipelihara. 

3. Tindakan Higienis Atau Sanilasi

  • Menjaga kebersihan dengan cara menyucihamakan peralatan dan kandang. 
  • Menjaga kebersihan di dalam dan di luar kandang dengan cara menjaga kelembapan udara, rajin membersihkan kotoran, membersihkan sisa pakan yang berserakan dan semak-semak di sekitar kandang, serta menjaga pakan dan air minum dan kontaminasi bibit penyakit. 
  • Menjaga kebersihan kulit ternak yang dipelihara dengan cara sering dimandikan dan disikat. Selain itu, bulu yang panjang harus sering dipotong. 
  • Mengubur dan membakar bangkai. 
  • Menjaga kebersihan petugas dengan cara mencuci anggota badan dengan air hangat dan sabun lalu digosok dengan obat-obatan penyuci hama atau desinfektan. 
  • Men jaga kebersihan bahan pakan. 






Usaha Perbaikan Produksi Ternak Sapi Potong Melalui Pengelolaan

Hasil pemilihan bibit melalui seleksi harus berimbang dengan pengelolaan yang baik. Dalam rangka pengelolaan untuk perbaikan tingkat produksi ini perlu adanya suatu program khusus, terutama pemberian pakan dan program kesehatan. 

a) Perbaikan produksi melalui pakan

Peternak perlu mempertimbangkan cara-cara pemberian pakan yang baik dan efisien, yakni harus sesuai dengan kebutuhan biologis hewan yang bersangkutan. 
Efisiensi kebutuhan biologis pada sapi potong bisa dicek di dalam pembentukan atau penimbunan daging dan pertambahan berat pada periode tertentu. 
Untuk keperluan penggemukkan dan peningkatan produksi, pakan yang berasal dan biji-bijian harus pula ditingkatkan. Sementara itu, pakan berserat kasar tinggi yang berasal dan bahan-bahan kurang bermutu, seperti jerami harus dihentikan dan hijauan Iainnya bisa dikurangi. Selain itu, usaha untuk meningkatkan mutu ransum harus sejalan dengan tindakan penyelarasan nilai gizi yang terkandung di dalam pakan tu sendiri.
b) Perbaikan produksi lewat program kesehatan
Untuk menunjang kesehatan sapi, di samping harus memperoleh pakan yang cukup dan bermutu, juga harus mengikuti pelaksana program kesehatan secara baik. Oleh karena itu, program kesehatan yang dilakukan dengan pencegahan dan tindakan higienis perlu dilaksanakan dengan baik. 

Usaha Perbaikan Produksi Ternak Sapi Potong Melalui Bibit

Peternak bisa mempertinggi mutu ternak dan produksi, terutama berupa daging dengan cara membeli dan memilih bibit-bibit unggul. Kriteria unggul sapi potong yaitu unggul dalam hal produksi, ketahanan penyakit, adaptasi, pemeliharaan, dan mencerna pakan. 

Peternak juga harus melakukan pencatatan perkawinan ternaknya dan berupaya memahami masalah keturunan yang tidak lepas dan faktor genetis.
Perbaikan produksi melalui peningkatan mutu bibit bisa dilakukan dengan usaha penyilangan sapi lokal dengan sapi unggul dan luar atau dengan cara menggantikan beberapa bangsa sapi tertentu dengan bangsa sapi luar yang adaptasinya baik. 


Oleh karena itu, akhira khir ini pemerintah telah mendatangkan sapi-sapi jenis unggul ke Indonesia, yaitu brahman, hereford, shorthorn, charolais, aberdeen angus, limousin, simmental, dan lain-lain. 

Sapi brahman banyak dipakai sebagai bahan baku perbaikan dengan cara mengawinsiIangkann>a dengan kelompok sapi lokal dan kelompok Bos taurus. Cara untuk melakukan perbaikan atau peningkatan ternak sapi potong melalui bibit, yaitu sebagai berikut.

a) Dengan cara kawin silang
Cara ini bisa mengubah sifat-sifat sejumlah ternak piaraannya secara bertahap. Hal ini bisa dilakukan dengan mencari pejantan dan bangsa sapi terpilih, kemudian dikawinkan dengan betina dan bangsa sapi yang ingin diperbaiki. Setelah diperoleh keturunan, keturunan pertama dikawinkan kembali dengan pejantan tadi, demikian seterusnya. 

Pada generasi kelima, turunannya telah mendekati darah bangsa pejantan yang dipakai. Sebagai contoh, persilangan antara sapi ball betina dan Bos taurus, jantan persilangan antara sapi tipe pedaging keturunan Bos taurus dan brahman, dan persilangan antara tipe pedaging dan sapi perah. 

b) Dengan cara mengganti seluruh bibit yang telah ada 

Cara ni membutuhkan biaya lebih tinggi walaupun hal ni bisa juga dilakukan secara bertahap.
Catatan
Sapi jenis baru hash persilangan tipe pedaging Bos taurus dan brahman, yaltu sebagai berikut.
 1. Sapi santa gertrudis Jenis sapi baru mi merupakan hash persilangan antara induk shorthorn dan pejantan brahman.
 2. Saph beefmaster Saph mi merupakan hash pershlangan antara brahman, hereford, dan shorthorn dengan komposisi genetiknya diperkirakan 50% brahman, 25% hereford, dan 25% shorthorn.
 3. Sapi droughtmaster Jenis mi sebenarnya sama dengan santa gertrudis, hanya saja pembawaan sapi brahman Iebih dominan.

Pakan Dan Nutrisi Ayam Kampung Super

Jika kita mantap untuk menjalani usaha ternak ayam, maka semua harus dilakukan dengan matang.Termasuk bagaimana cara pemberian makan yang benar. Tentunya tidak sembarangan, harus dilakukan dengan pola, prosedur dan tata cara yang benar. Mungkin Anda menyela,

“Memang kenapa kalau sembarangan? Toh banyak ayam kampung yang bisa hidup tanpa perawatan intensif’

Loh, kita di sini kan sedang membicarakan mengenai bisnis ternak ayam kampung super. Jelas tidak bisa disamakan dengan pemeliharan yang sederhana. Karena hasilnya pun pasti berbeda. Di sini kita mengharapkan usaha ternak ml memberikan untung yang Iebih. Bukan sekadar hobi memelihara ayam. Benar tidak?

Jadi, untuk pemberian makan pun tidak boleh sembarangan. Jika pemberian makan tidak benar, hal ini akan menyebabkan ayam memiliki pertumbuhan badan yang kurang optimal. Dan dan situlah akan membuat waktu pemeliharaan ayam akan semakin lama dan tentunya memakan biaya yang Iebih, bukan? 

Berikut adalah cara pemberian makan yang baik sesuai dengan usia ayam.
1. DOC Ayam Kampung Super Umur 1-21 Hari
Cara pembenian makan yang balk pada usia mi adalah secara kontinyu atau terus menerus. Dengan cara ini diharapkan DOC ayam akan mendapat asupan yang optimal sesuai dengan pertumbuhannya. Tapi tidak ddisarankan member pakan basah. Meskipun akan meningkatkan nafsu makan, tapi dikhawatinkan bisa menghadirkan penyakit pada ayam di mana jamur akan mudah tumbuh.
2. Ayam Kampung Umur Setelah 21 Hari
Setelah memasuki umur 21 han ada baiknyajika mereka diberi pakan basah dan kering pada waktu pagi hari dan pakan kering pada sore han. Cukup dua kali saja. Lebih hemat, kan? Tapi porsinya memang cukup begitu. 



Nah jika barusan pemberian makan sesuai dengan usia pertumbuhan ayam perlu juga kita ketahui bahwa ada cara tersendiri untukmemberi makan ayam indukan.

Jadi, menurut sebuah sumber, pada ayam indukan cara memberikan makannanya adalah dengan selalu menyiapkan makanan di segala sudut kandang. Hal ini karena pada ayam indukan mereka hanya makan selama lx sehari dan rata-rata itu hanya pada pagi han saja. 
Sekarang Anda sudah semakin banyak informasi, kan? 

Berikut adalah tips pemberian makanan yang baik, supaya ayam terhindar dan penyakit. 

a. Berikan porsi yang tepat.
Sudah dibahas di depan, bahwa pemberian makan pada ayam tidak boleh sembarangan. Harus sesuai dengan porsinya. Dengan begitu kita harus tahu berapa banyak sih porsi makan setiap usia. Tadi sudah dijelaskan ya. Intinya, jika kita terlalu  
banyak memberi makan, dikhawatirkafl bisa memengaruhi selera makan seanjutnya. 

b. Hindari pakan basah.
Pada usia kurang dan 21 han, usahakan jangan memberikan pakan basah. Kenapa? Karena walaupun dapat meningkatkan nafsu makan ayam, pakan yang basah dapat menimbulkan jamur yang berbahanya bagi ayam.


c. Berikan pakan yang masih fresh.
Jika manusia saja tidak suka makanan basi, maunya yang baru/ fresh, begitu pun dengan ayam. Dalam memberikan pakan ayam kampung super yang diternak untuk bisnis kita diwajibkan unituk selalu memberikan makanan yang masih baru/fresh. Jangan sampai kita memberikan pakan yang sudah lama. Apalagi pakan tersebut sudah berjamur dan berbau akibat penyimpaflan yang terlalu lama. Makanan yang sudah berjamur dan berbau akan menurunkan kadar vitamin yang ada dalam pakan ayam tersebut.


Kalau sudah seperti itu, jelas akan menimbulkan penyakit pada ayam. Meskipun beruntung tidaksakit,taPi bau yang ditimbulkan dan makanan akan membuat ayam kurang berselera untuk makan. 


 d. Tertib memberikan makan
Jika kita sudah membuatjadwal pemberian pakan, maka taatilah. Makan pagi akan diberikan jam berapa? Siang jam berapa? Dan sore jam berapa? Jangan sampai telat atau terlalu cepat. Karena itu akan memengaruhi selera makan pada ayam dan juga tidak efektif. 


e. Memberi pakan sesuai nutrisi
Berikan nutrisi yang cukup pada ayam. Karena hal ini 
akan mempersingkat waktu pemeliharan ayam.Soal nutrisi ini, nanti akan kita bahas lebih dalam di bagian belakang. 

f. Sesualkan tempat makan dengan kebutuhan
Ada baiknya kita tidak memberikan pakan sesuai dengan batas ketinggman tempat makan. Maksudnya adalah tempat makan diisi penuh karena mempertimbangkan kebutuhan pakan untuk sejumlah ternak. Itu ada baiknya jangan dilakukan. 


Pemberian yang baik yaitu memberikan pakan pada ayam dengan kadar 3/4 dan batas ketinggian tempat makan. Kalau memang tidak mencukupi, ya perbanyakjumlah tempat makan. Selain itu baik untuk kesehatan ayam, hal ini akan mencegah pakan ayam mudah tumpah kemana-mana. Coba bayangkan? Jika Anda sayang untuk membeli lagi tempat makan, niatnya hemat malah pembengkakan biaya pakan.

g. Pakal masker 
Bukan ayamnya yang maskeran, tapi kita.ya, apabila memberikan makan pada ayam ada baiknya meriggunakan masker. Kenapa? ini hanya untuk antisipasi jika ayam berpenyakit akan menular pada peternaknya. Begitu pun sebaiiknya, jika kita sakit tidak menular kepada ternak.
h. Jaga kebersihan
Cud secara berkala dan semprOt dengan dlsinfektafl untuk mencegah adanya bakteri pada wadah pakan. 

Mekanisme Gangguan Produksi Telur Pada Ayam Petelur

Mekanisme Gangguan Produksi Telur Produksi telur tidak hanya bergantung pada berat badan ayam pada saat bertelur. Produksi telur juga bergantung pada perkemb angan saluran pencernaan dan reproduksi. Bagaimana mekanisme terjadinya gangguaan produksi telur?

Pertama kali, bisa saja terjadi gangguan perkembangan ovariu rn dan oviduk akibat gangguan pertumbuhan ayam. Pada awal 8 minggu pertama, pertumbuhan ayam terhitung sangat cepat, tetapi setelah 15 minggu, pertumbuhanya lambat.

Pada usia 16-20 mmg gu, kematangan seksuat ayam terjadi. Karena adanya gangguafl pertumbuhan produksi ayam mungkin akan tertunda, bahkan bisa terra mbat. Ada penyakit tertentu yang hanya merusak ovarium ayam, oviduk, atau dua-duanya. Kita ambil contoh LB dan EDS, hanya mer usak oviduk,tetapi tidak merusak ovarium.

Sementara itu, serangan Al bisa merusak ovarium dan oviduk sekaligus. Berbagai faktor stres, baik yang sifatnya sementara maupufl berkepanjangan, menimbulkan gangguaan keseimbangan hormonal

yang mengendalikan produksi telur. Fluktuasi temperatur dan kelembapan yang lebar pada musim pancaroba, misalnya, bisa mengakibatkan stres berkepanjangan yang berakibat mengganggu produksi telur.

Sebab-sebab gangguan perkembangan ovarium dan oviduk yang mengakibatkan akibat gangguan perkembangan pada ayam, adalah faktor manajemen dan kualitas DOC. DCC ayam petelur seharusnya memiliki berat antara 33-40 gram, tidak boleh ada infeksi, dan tidak boleh memiliki cacat anatomi. Jadi, kita harus mendapatkan DCC yang sehat. 


 Apa saja faktor pakan yang menentukan turunnya produksi telur? Kuantitas sesuai periode pertumbuhan dan produksi, nutrisionis dan pabrik pakan, kualitas, kandungan nutrien yang terpenuhi dan berimbang sesuai dengan periode pertumbuhan dan produksi, begitu juga bebas pencemaran, mikotoksin, dan bakteri.


Faktor penyakit juga menimbulkan hambatan pertumbuhan. Mikotoksikosis terutama efek domino dan mikotoksikosis mutai dan aflatoksikosis khususnya, kemudian ada kelompok T2 toksikosis, okratoksikosis, dan ada beberapa lagi kelompok yang juga mengganggu pertumbuhan. Kemudian, ada yang berhubungan dengan infeksi stunting syndrome ayam dan kompleks agen peny akit yang terkait. 

Berbagai penyakit dapat mengganggu pert umbuhan. Mulai dan penyakit pernafasan CRD, infeksi Coryza, SHS atau infeksi avian metapneum o virus, ILT, Kolera unggas, penyakit pencernaan, Koksidiosis, KoLibasi Losis, SaLmoneLla, infeksi Kiostnidia (Nekrotik Enteritis), dan penyakit a ki bat cacing, baik cacing pita maupun cacing gilig.



Bentuk Bentuk Gangguan Produksi Telur Pada Ayam Petelur

Apa saja bentuk-bentuk gangguan produksi telur?

Pertama, produksi awal yang tertunda. Produksi awal ayam petelur pada umumnya berumur 16 minggu, kadang-kaang 20-21 minggu, atau sampai 30 minggu. Bahkan ada yang bertelur pertama kali pada umur40 minggu.

Kedua, gangguan peningkatan produksi. Pada umur 21 minggu, ayam hanya mampu berproduksi 50 persen, bahkan kadang-kadang Lebih rendah lagi.

Gangguan ini juga bisa terjadi pada puncak produksi. Setelah puncak produksi, terkadang ayam mengalami pen urunan produksi yang cukup drastis.

Ketiga, serangan penyakit. Pola atau manajemefl produksi harus dipelajari dengan balk oleh peternak ayam petelur. mi karena danya gangguan fase-fase produksi balk henday maupun hen-out.

Keempat, gangguan kualitas telur. Gangguan mi menyangkut berat teLur, bentuk telur, dan kualitas kerabang. Gangguafl kualitas telur, antara lain, warna telur yang tidak coklat lagi, kerabangnya tipis, mudah pecah, kuning telur pucat, kuning tua, sangat kental, dan albumin banyak yang cair.

Gangguafl produksi ini dapat bersifat sementara ataupun perm anen, tergantung beratnya gangguan. Contoh faktor produksi yang disebabkan oleh lB yang ganas adalah produksi telur turun dua digit yang bersifat permanen dan tidak bisa kembaLi normal.

Persiapan Wadah dan Media Untuk Pembibitan Belut di Kolam

Wadah dan media perlu dipersiapkan 1-3 bulan sebelumnya.Tujuannya agar media budidaya benar-benar siap dan sesuai dengan kondisi induk sebelum ditebar.


1. Menyiapkan wadah Dalam pembibitan belut, perlu menyiapkan kolam induk, kolam pemijahan, dan kolam pendederan, baik untuk kolam tanah, terpal maupun beton.

Untuk kolam beton, harus benar-benar diperhatikan telah bebas dan hilangnya residu semen dan berpermukaan halus, lembut, serta licin.

b. Kolam induk berukuran panjang x lebar x kedalaman = I m x 2 m x (0,6-0,8) m. Calon induk belut dimasukkan ke dalam kolam induk selama 1—2 minggu sebelum ditebar ke dalam kolam pemijahan.

c. Kolam pemijahan berukuran panjang x lebar x kedalaman = I m x 2 m x (O,6—0,8) m yang akan dihuni oleh 2 set indukan, yaitu 2 ekor pejantan dan 8 ekor betina. Kolam pemijahan juga dipakai untuk penetasan dan pemeliharaan bibit belut yang baru menetas hingga ukuran 2 cm.

d. Kolam pendederan Kolam pendederan pertama (ukuran I m x 2 m dengan kedalaman 0,6 m). Kepadatannya kurang lebih 500 ekorl m2. Kolam pendederan kedua dibuat dengan ukuran yang lebih besar (ukuran kolam kurang lebih 2 m x 2 m dengan.
 
2. Menyiapkan Media
Pada prinsipnya, media untuk pembibitan belut di kolam sama dengan di tong atau drum. Hanya saja, kuantitas media disesuaikan dengan ukuran kolam yang digunakan. Selain itu, media untuk pendederan nantinya pun sama, tetapi ketebalannya cukup 10- 5 cm. 

Hal tersebut akan memudahkan proses pemindahan dan pemanenannya. Syarat utama media yang digunakan harus betul-betul lembut, gembur dan kaya nutrisi berupa mineral dan plankton sebagai makanan alami anak belut. 

3. Mengecek Kesiapan Media
Pengecekan media harus dilakukan setelah kurang lebih 3 minggu.
Pengecekan tersebut dilakukan sebelum pemasukan indukan.

Bangsa Sapi Keturunan Bos Taurus dan Bos Sondaicus


Dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan, khususnya ilmu peternakan yang semakin maju ini, bangsa-bangsa sapi yang secara genetis tadinya memiliki ciri-ciri berbeda satu dengan lainnya dan masung - masing memiliki keunggulan dan kekurangan, kini telah dijadikan satu dengan cara kawin silang. Dengan demikian, bisa diperoleh keturunan baru yang andal, baik produktivitas dagingnya maupun sifat-sifatnya.

Bangsa Sapi Keturunan Bos Taurus dan Bos Sondaicus

1. Sapi Santa Gertrudis
  • Hasil persilangan antara sapi brahman dan shorthorn.
  • Termasuk sapi tipe potong
  • Ciri-ciri : Ukuran tubuh besar, toleransinya terhadap panas dan pakan yang sederhana lebih besar daripada golongan subtropis murni. Tahan terhadap gigitan caplak. Berat badan betina sekitar 725 kg dan jantan sekitar 900 kg.

2. Sapi Beefmaster
  • Hasil persilangan antara Bos indicus (brahma) dan Bos taurus dengan hereford dan shorthorn.
  • Termasuk sapi tipe potong.
  • Ciri-ciri : Warnanya tidak seragam ada yang berwarna cokelat, cokelat kemerahan.

Bangsa - Bangsa Sapi Potong Subtropis (Sapi Eropa)


Ciri-ciri sapi subtropis yaitu sebagai berikut :
  • Sapi tidak memiliki ponok
  • Ujung telinga berbentuk tumpul atau bulat. Kepala pendek, dahi lebar.
  • Kulit tebal, rata-rata 7 - 8 mm, Bulu panjang dan kasar.
  • Kaki pendek sehingga geraknya lambat.
  • Cepat menjadi dewasa karena umur 4 tahun sudah bisa mencapai berat maksimal.
  • Tidak tahan terhadap suhu tinggi, relatif lebih banyak minum, dan kotorannya basah.
  • Sapi yang sudah dewasa tumbuh besar. Sapi jantan bisa mencapai 900 kg.

Bangsa Sapi Suptropis di Indonesia

1. Sapi Aberden Angus 
  • Asal dari Scotlandia Utara dan masuk ke Indonesia tahun 1973.
  • Termasuk sapi tipe potong terbaru.
  • Ciri-ciri : Sapi tak bertanduk. Berat tubuh betina dewasa sekitar 700 kg dan jantan dewasa sekitar 900 kg. Sapi ini cepat mencapai dewasa kelamin. Karkas menghasilkan daging yang baik.
2. Sapi Hereford
  • Asal dari Inggris, Hereford.
  • Termasuk sapi tipe potong.
  • Ciri-ciri : Populer dengan sebutan white faced cattel, Berat sapi betina sekitar 650 kg dan jantan sekitar 850 kg, mutu dagingnya bagus dan adaptasinya baik terhadap lingkungan yang suhunya tinggi maupun rendah, serta pakannya sederhana. 
3, Sapi Shorthorn
  • Asal dari Inggris
  • Termasuk sapi tipe potong
  • Ciri-ciri : Warnanya merah tua sampai muda, kombinasi merah dan putih, atau merah kelabu. Berat badan sapi betina sekitar 750 kg dan jantan 1.000 kg. Sapi ini termasuk tipe potong yang terberat di antara bangsa sapi yang berasal dari Inggris.

Bangsa - Bangsa Sapi Potong Tropis


Ciri-ciri mencolok sapi tropis sebagai berikut ;
  • Umumnya sapi memiliki ponok
  • Pada bagian ujung telinga nerubcubg dengan kepala panjang dan dahi sempit.
  • Garis punggung pada bagian tengah berbentuk cekung dan pada bagian tunggingnya miring.
  • Bahunya pendek, halus, dan rata.
  • Kakinya panjang sehingga gerakannya lincah,
  • Pertumbuhannya lambat sehingga pada umur 5 tahun baru bisa mencapai berat maksimal.
  • Bentuk tubuh sempit dan kecil serta berat timbangan sekitar 150 - 650 kg.
  • Ambingnya kecil sehingga produksi susunya rendah.
  • Toleran terhadap berbagai jenis pakan yang kandungan serat kasarnya tinggi atau pakan yang sederhana.
  • Tahan terhadap gigitan nyamuk dan caplak.

Berbagai Sapi Tropis Di Indonesia

1. Sapi Bali
  • Keturunn dari sapi liar yang disebut banteng (Bos dibos atau Bos sondaicus) yang sudah mengalami penjinakan.
  • Termasuk tipe pedaging dan kerja.
  • Ciri-ciri bentuk tubuh menyerupai banteng tetappi lebih kecil akibat proses domestifikasi. Tinggi sapi dewasa 130 cm. Berat rata-rata sapi jantan 450 kg, sedangkan betina 300 - 400 kg. Hasil karkas 57%.
2. Sapi Madura
  • Hasil persilangan antara Bos sondaicus dan Bos indicus.
  • Termasuk tipe pedaging dan kerja.
  • Ciri-ciri: panjang badan mirip sapi bali, tetapi berponok kecil. Berat badan 350 kg. Tinggi badan kira-kira 118 cm. Hasil karkas 48%.
3. Sapi Ongole
  • Berasal dari India (Madras).
  • Di Eropa disebut zebu, sedangkan di jawa sangat populer dengan sebutan sapi benggala.
  • Termasuk tipe potong dan kerja.
  • Ciri-ciri : Ukuran tubuh besar dan panjang. Ponoknya besar. Berat sapi jantan 550 kg dan betina sekitar 350 kg.

Pemilihan Lokasi Kandang Itik

Lokasi kandang perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam peternakan itik. Lokasi yang sangat ramal dan bising tentu akan rnempengaruhi kenyamanan ternak. ltik bisa stres dan mempengaruhi produktivitasnya 

Syarat lokasi yang baik adalah mudah dalam hal akses transportasi Peternajcan itik dalam skala apapun mulai dan kecil, menengah, dan besar nnembutuhkan prasarana yang baik untuk kelancaran transpontasi dalam hal pemasaran, pengangkutan pakan, dan lain-lain.


Itik merupakan ternak yang n√™nghasilkan limbah berupa kotoran. Kotoran tersebut berbau sehingga bila tidak dikelola dengan balk akan mempengaruhi kesehatan ternak dan kesehatan lingkungan. Maka, lokasi peternakan harus memperhitungkan pula dengan pemukiman penduduk. 

Di sentra-sentra peternakan itik, kandang ternak berada dalam pekarangan dan menyatu dengan rumah peternak. Faktor lingkungan harus menjadi perhitungan yang matang agar keberadaan kandang ternak dekat pemukiman tidak menganggu kenyamanan hidup dan kesehatan warga masyarakat sekitar. 

Faktor lain yang perlu
mendapatkan perhatian dalam pemilihan lokasi kandang ternak adalah ketersediaan air. Itik memang unggas air. Meski dalam perkandangannya tidak harus dibuatkan kolam untuk berenang, tetapi kemudahan mendapatkan air sangat mendukung keberhasilan ternak itik. 

Itik membutuhkan air untuk minum dan mendinginkan suhu tubuhnya. Itik juga membutuhkan air untuk bermain. Tentu saja pengelolaan tempat minum harus sebaik mungkin sehingga itik yang menyukai air tidak menyebabkan lantai kandang menjadi becek. 

Drainase atau saluran pembuangan air juga dibuat dan diperhitungan secara balk agar air limbah buangan dan peternakan itik tidak mencemari lingkungan. Sebab itu sistem pengolahan limbah dan drainase harus dibuat sebaik mungkin sehingga dampak negatif yang merugikan dan adanya Iimbah ternak berupa kotoran itik dan sisa makanan tidak berpengaruh buruk terhadap kesehatan ternak, manusia, dan lingkungan.

Penetasan Burung Puyuh

Untuk menetaskan telur burung puyuh diperukan telur tetas yang betul-betul fertil. 

Telur itu harus dihasilkan dan perkawinan puyuh betina dengan burung puyuh jantan yang dipelihara secara khusus untuk menghasilkan telur tetas dan tidak djuaI sebagai telur konsums.


Pengumpulan telur burung puyuh harus dilakukan dengan hatih ati karena kerabang telur burung puyuh sangat tipis sehingga Iebih mudah pecah dibanding telur ayam.  Apabila akan menetaskan telur burung puyuh, lakukan seleksi atas telur tetasnya terlebih dahulu. 

Lakukan penyortian atas besar-kecilnya telur, bentuk telur, dan kualitas kerabang telur untuk mendapatkan anakan burung puyuh yang baik.

PiIih telur dengan berat yang seragam dan kemudian eliminasi telur sebagai berikut:
1. terlalu besar atau terlalu kecil.
2. gembur atau lunak.
3. kerabang telur tidak rata atau berbenjol-benjol.
4. retak.




Telur Tetas Burung Puyuh

Kadang kala penetasan telur burung mengalami kegagalan. Hal itu mungkin bukan karena kesalahan pada mesin tetas atau penanganannya, tetapi karena kualitas telur yang kurang baik. 
  1. Tidak menetas karena tanpa benih sama sekali, kosong, tidak dibuahi. Hal ini mungkin terjadi karena rasio pejantan dan betina kurang tepat atau kesehatan pejantan kurang fit. Bisa juga karena kaki pejantannya cacat atau sedang sakit. 
  2. Embrio mati pada 5—7 han pertama atau di pertengahan masa pengeraman. Hal ini dapat dilihat dengan meneropong telurnya (candling). 
  3. Embrio mati pada masa pertengahan atau menjelang han penetasan (disebut bantat). 
  4. Anak burung puyuh tidak berhasil keluar dan kerabang telur. 
  5. Telur menetas dan anak burung dapat keluar dan kerabang tetapi kondisinya lemah dan cacat. Semua kejadian di atas disebabkan oleh defisiensi vitamin dan mineral pada induk burung puyuh betina. 

Daya tetas rendah disebabkan oleh berbagai faktor benikut: 

  1. Burung puyuh jantan dan betina dalam keadaan tidak sehat, mengidap penyakit Pullorum (berak putih) yang kemudian menular ke telurnya. 
  2. Burung puyuh jantan dan betina berasal dan induk yang sama sehingga terjadi inbreed. 
  3. Burung puyuh betina masih muda, kurang dan 5 minggu umurnya. Sebaiknya jangan menggunakan indukan yang demikian sebagai bibit. Baru sesudah umurnya lebih dan 5 minggu, burung puyuh betina itu dapat dipakai sebagai induk.
  4. Rasio perbandingan jantan dan betina kurang tepat dan tidak seimbang. Jaga tidak melebihi 1 jantan dengan 6 betina. 
  5. Tata laksana kandang kurang tepat, kurang ventilasi, pengap, lembab, dan panas. 
  6. Telur tetas sudah kadaluwarsa karena terlalu ama disimpan. 
  7. Tempat penyimpanan telur terlalu panas dan kering sehingga terjadi dehidrasi, ditandai dengan melebarnya rongga udara di dalam telur tersebut. 
  8. Telur tetas tercemar penyakit tertentu sewaktu disimpan, misalnya terkena kotoran burung yang sakit. 
  9. Telur tetas terkena air hingga basah, terkena tempias air hujan sewaktu disimpan, atau karena kotor dan kemudian dibersihkan dengan air tenlebih dahulu.
  10. Pakan untuk pejantan dan betina indukan tidak memenuhi standar pakan khusus untuk pembibitan (terutama kebutuhan ekstra vitamin dan mineral tertentu). 





Faktor Penyebab Gangguan Terhadap Ternak Burung Puyuh

Gangguan yang terjadi terhadap ternak burung puyuh sangat bervariasi sesuai Iingkungan di mana peternakan itu berada, misalnya: 

1. Faktor kebisingan
Suasana bising akan membuat burung puyuh mengalami stres yang berakibat buruk pada kondisi dan staminanya. Akibat selanjutnya adalah menurunnya produksi telur. 

2. Faktor hama
Hama selalu ada di mana-mana, tergantung kita tanggap atau tidak, antara lain kucing, tikus, semut, dan lain sebagainya. Biasanya tikus suka masuk ke kandang karena di dalam kandang terdapat makanan yang juga disenangi tikus. 
Kita harus tahu lewat mana tikus masuk ke dalam kandang. Jalan masuk tikus itu sebaiknya segera ditemukan untuk kemudian ditutup rapat. 
3. Lakukan upaya preventif dengan memasang jebakan, racun tikus atau em tikus agar bebas dan serangan tikus.

Faktor Kesehatan dan Cuaca Pada Ternak Burung Puyuh

Kesehatan merupakan faktor utama. Apabila burung puyuh tidak sehat maka mereka tidak akan bergairah untuk hidup, mengalami gangguan pertumbuhan dan kemudian juga mengalami gangguan dalam produksi telur. 



Kesehatan dipengaruhi oleh perubahan cuaca di sekitarnya, terutama pada musin pancaroba dan musim penghujan yang mana angin cukup deras dan udara cukup dingin. Burung puyuh jadi mudah lapar 



Untuk membuat burung puyuh tahan banting di segala cuaca, kesehatannya tetap prima, pemilik sudah harus bersiap untuk menghadapi situasi yang kurang baik itu dengan cara: 



1. Pada musim penghujan, berikan mineral tambahan pada bur ung puyuh, misalnya kalsium       fosfat, agar burung puyuh lebih tahan terhadap serangan cuaca dingin. 
2. Pada musim penghujan, gunakan kain penutup agar angin yang masuk tidak berlebihan,           terutama pada malam han. 
3. Tingkatkan kandungan gizi pakan karena pada cuaca dingin burung puyuh lebih cepat             Iapar. 
4. Biarkan sinar matahari masuk ke kandang pada pagi dan siang han secara rutin agar burung     puyuh mendapatkan vitam in D3. 
5. Berikan tambahan vitamin pada air minumnya untuk men ingkatkan daya tahan tubuh dan       kesehatannya. 
6. Tingkatkan kebersihan dan lakukan penyemprotan kandang menggunakan desinfektan             secara berkala. 
7. Yang paling penting, jangan memelihara ayam di dekat kand ang burung puyuh karen ayam merupakan sumber penul aran penyakit yang dapat dengan cepat menyebar ke mana-mana, terutama lewat perawatnya. 

Jangan sekali-kali memegang ayam dan kemudian memberi makan atau minum burung puyuh. Hal itu sangat membahayakan kesehatan bur ung puyuh. 

Banyak peternak burung puyuh yang kurang men yadari hal ni sehingga mereka masa bodoh karena merasa sudah terbiasa. Mungkin mereka belum pernah kebobolan, terserang wabah secara mendadak.

Sistem Perkandangan Yang Baik Untuk Burung Puyuh

Kandang berpengaruh pada kenyamanan aktivitas dan kesehatan sehari-hari burung puyuh yang dipelihara di dalam kandang itu.

Apabila kandang bermasalah, hasilnya akan mengalami kemunduran atau bahkan gagal.

Kandang yang baik adalah kandang yang memiliki sisi ruangan yang terang.

Kandang juga harus nyaman, tidak banyak angin yang masuk dan mengganggu kesehatan burung-burung puyuh yang ada di dalam kandang itu.

Terkadang hal-hal kecil seperti itu agak terabaikan oleh pemiliknya. Kandang tidak boleh terlalu lembab atau pengap karena akan mengganggu pernapasan burung puyuh, mengganggu kesehatannya, terutama saluran pernapasannya.

Faktor Gizi dari Pakan Untuk Pertumbuhan Burung Puyuh

Faktor gizi pada pakan yang diberikan sangat penting untuk pertumbuhan burung puyuh yang kemudian juga berpengaruh pada kecepatan kedewasaan kelamin serta alat reproduksi, produksj telur serta daya tetas telurnya. 



Gizi makanan merupakan mata rantai yang berurutan. Apabila sejak awal gizinya kurang balk maka hasil selanjutnya juga akan kurang baik. Keturunan yang dihasilkan pun men jadi kurang sempurna. 

Sebetulnya gizi yang baik tidak terlalu sulit, misalnya pilih pakan yang bergizi dengan kandungan protein yang cukup tinggi sesuai umur dan dilengkapi dengan mineral dan vitamin, terutama vitamin E, vitamin A, dan kalsium secukupnya. 

Apabila semua makanan disusun dengan kualitas dan gizi yang balk, maka pasti akan menghasilkan anak-anak burung puyuh yang sehat dan sempurna, yang produktivitas telurnya tinggi. 

Pakan juga memengaruhi kualitas telur yang dihasilkan, balk bentuk, kerabang maupun daya tetasnya. Dibutuhkan keseimbangan antara protein, energi dan mineral serta vitamin. Yang juga sangat penting untuk membuat indukan tetap sehat dan lebih tahan terhadap serangan penyakit. Juga berlaku untuk anak-anak yang ditetaskan, untuk pertumbuhan mereka di kemudian han.






Syarat Bibit Burung Puyuh Jantan dan Burung Puyuh Betina Betina

Faktor bibit memegang peran sangat penting untuk men jaga mutu keturunan selanjutnya. Bibit yang prima pasti akan menurunkan anakan yang prima pula. Oleh sebab itu sebelumnya harus dilakukan seleksi indukan untuk pembibitan ini

Burung puyuh jantan yang akan digunakan sebagai bibit harus memenuhi syarat-syarat sebagal berikut: 

1. Umur sudah cukup dewasa, minimal 6 minggu.
2. Memiliki garis keturunan yang jelas agar tidak terjadi perkawinan sedarah
(inbreed).
3. Dalam keadaan sehat sehingga tidak akan menularkan penyakit kepada pasangan maupun keturunannya.
4. Tidak menderita cacat badan, misalnya kaki pengkor paruh bengkok, dll. 

5. Telah dipelihara dengan gizi yang balk, di mana kondisi fisiknya kuat, kekar, lincah, gesit dan agresif. 

Burung puyuh betina yang akan digunakan sebagai bibit harus memenuhi syarat sebagal berikut:
1. Umur minimal 7 minggu.
2. Dalam keadaan sehat, Iincah, tidak kegemukan, gesit, tidak menderita penyakit menular.
3. Memenuhi standar berat badan calon induk.
4. Tidak menderjta cacat badan, balk cacat keturunan ataupun cacat bawaan.
5. Telah dipelihara dengan gizi yang balk sehingga memiliki fisik yang kuat, sehat, Iincah, dan gesit, dan telah dipersiapkan sebagai calon indukan yang balk.
Setelah semua syarat terpenuhi, bibit jantan dan betina kemudian dimasukkan ke kandang pembibitan dengan rasio jantan betina maksimal satu banding lima.



Memilih Bibit Burung Puyuh yang Baik

Bibit burung puyuh unggul merupakan modal utama beternak burung puyuh untuk mencapai produktivitas yang tinggi dan kelangsungan produksi telur dalam waktu panjang. Sebaliknya, bibit yang kurang baik akan menimbulkan kesulitan di kemudian han dan produktivitasnya rendah. 

Bibit yang baik bisa didapatkan dan pembibit yang merawat ternaknya dengan baik dan memenuhi syarat breeding, bukan bibit yang dibeli di peternakan burung puyuh pada umumnya yang memproduksi telur konsumsi. 


Sebaiknya sebelum membeli bibitnya kita datangi tempat pembibitan tersebut untuk melihat langsung catatan pembibitannya. Jangan gunakan bibit yang berasal dan perkawinan sedarah (inbreed) terus-menerus karena keturunannya akan semakin buruk kualitasnya. 

Selain itu, kualitas pakan, dan terutama rasio jantan betina harus tepat, dengan cara penetasan yang lengkap dan sempurna sehingga terjamin sebagai bibit yang unggul dan berkualltas.
Sebetulnya yang paling bagus adalah melalui pembibitan sendiri. Oleh sebab itu, peternakan yang telah berhasil dan berkembang kebanyakan melakukan pembibitan sendiri untuk perkembangannya ke depan.


Keberhasilan pengembangbiakan atau pembibitan burung puyuh sangat tergantung pada: 


1. Faktor bibit yang tersedia.
2. Faktor gizi dan pakan yang dibenikan.

3. Faktor sistem perkandangan.
4. Faktor kesehatan dan cuaca.
5. Faktor gangguan lain.


Kelima faktor tersebut sangat menentukan keberhasilan pembibitan burung puyuh. Bila semua faktor terpenuhi maka akan mengh asilkan anak-anak burung puyuh berkuajitas prima, bahkan melebihi kualitas indukannya. Sebaliknya, bila pembibitan dilakukan secara sembarangan maka hasilnya tentu tidak akan sesuai den gan yang diharapkan. 

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi keberhasilan kebersihan usaha budidaya. Umumnya semakin intensif teknologi budidaya yang digunakan mengakibatkan semakin besar pula kemungkinan timbulnya penyakit. Hal tersebut di sebabkan oleh semakin tingginya kepadatan yang digunakan sehingga mendekati batas maksimal daya dukung lahan.

FAKTOR PENDUKUNG TIMBULNYA PENYAKIT

1. Perubahan Lingkungan
- Perubahan musim dari kemarau ke hujan merupakan kesempatan bagi bibit penyakit untuk menyerang ikan, apalagi daya tahan ika melemah dan retan terhadap berbgai macam penyakit.

2. Keberhasilan Kolam dan Peralatan
- Kondisi kolam dan peralatan yang kotor dan bau sangat disukai penyakit dan tempat yang nyaman bagi penularan penyakit bisa tumbuh dengan subur.

3. Keadaan Ikan 
- Hal ini berkaitan dengan benih yang di beli.cek terlebih dahulu benih yang akan di beli.

4. Kualitas Pakan 
- Hal ini berkaitan dengan kandungan gizi yang ada di dalam pakan yang mengakibatkan daya tahan tubuh ikan melemah.

Hama dan penyakit dapat menyerang ikan baik pada tahap pendederan maupun pembesaran. Penyebab penyakit pada ikan berdasarkan penyebab penyakit berasalkan dari bakteri, virus, protozoa, parasit, dan penyakit karena kekurangan atau kelebihan unsur gizi.

Pada dasarnya penyakit pada ikan terjadi karena kondisi kolam itu sendiri karena kondisi kolam itu sendiri. Artinya, daya tahan ikan yang dipelihara melemah. Turunanya daya tahan ini bisa disebabkan oleh ulah pembudidaya / sipemelihara.

INFO| USAHA PENCEGAHAN PENYAKIT
 Usaha pencegahan penyakit yang bisa dilakukan dari fase benih hingga panen, yaltu sebaga benkut. 

• Benih yang diphh sebaiknya dan pembenih yang terpercaya.

• Benih yang dipehhara adalah benh yang normal, tidak cacat, sehat, dan aktif. 


• Kolam sudah s’ap, artinya sudah memenuhi persyaratan kuahtas, baik kma, fisika, dan biologis. 


• Setelah tiba, benih diaklimatisasikan dengan kondisi air kolam agar tidak sires yang menyebabkan mortalitas   tinggi. 


• Selama dua han, benih dibiarkan beradaptasi dengan lingkungan baru. Biasanya benih memakan pakan           alami yang tersedia. Setelah dua han, program pakan dibenikan sebanyak 3-4% dan biomasa. Frekuensi           pembenian pakan 3-4 kali per han, tergantung program pakan dan jenis ikannya.

Manajemen Komprehensif Dalam Pemeliharaan Ayam

Titik kritis pemeliharaan ayam petelur juga terletak pada manajamen komprehensif yang harus dijalankan. Di situlah terdapat faktor penting untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul pada pemeliharaan ayam petelur. Faktor penting tersebut adalah memperbaiki sistem manajemen farm secara komprehensif atau menyeturuh dan tingkat operator kandang sampai manajer farm. Tujuan utamanya adalah menciptakan sanitasi kandang seoptimal mungkin yang bisa dilakukan. Dengan Demikian beban penyakit di kandang dapat diminimalisasi melalui proses sanitasi rutin dan berkala.

Hal manajemen komprehensif ini harus diprogramkan secara tertulis, sehingga cek dan riceknya bisa segera dianalisis. Selain itu, pemilik peternakan juga harus melatih keterampilan operator kandang untuk bisa dengan sigap mengetahui gejala awal penyakit yang menyerang ternak. Dengan demikian, penyakit tersebut sudah bisa diatasi sebelum menular kepada hewan ternak yang masih sehat. Memang manajemen komprehensif tidak semudah yang diucapkan. Akan tetapi, dengan bimbingan secara terus-menerus dan telaten, hal itu mudah saja dilakukan. Apabila semua itu sudah dioptimal kan, pengendalian penyakit dan permasalahannya lebih mudah untuk ditangani.

Sebaliknya, jika manajemen kandang amburadul dan sanitasi kandang jelek, program vaksinasi dan pengobatan sebagus apa pun tidak akan ada hasilnya. Akhirnya, penurunan produksi akan terjadi dan berjalan lambat. Semua ini berkaitan dengan penurunan produksi. Dengan asumsi, ayam sudah pernah masuk puncak produksi, atau produksi sesuai dengan standar umurnya. Akan sangat berbeda jikalau produksi tidak pernah mencapai puncak atau standar umur. ini bisa terjadi dikarenakan pemeliharaan pullet yang jelek atau tidak optimal.

Penyakit penyebab turunnya produksi tetur sering ditemui di lapangan. Penyakit yang muncul akibat serangan bakteri adalah Kolibasilosis dan Snot (Koriza), sedangkan akibat serangan virus adalah Al, IB, dan ND. Faktor penting penyebab infeksi kuman Koli adalah rendahnya sanitasi air minum karena kualitas air minum yang tidak bagus, yakni memiliki kandungan koli yang sangat tinggi. Sedangkan untuk Koriza, biasanya diawali akibat kekurangjelian operator kandang mendeteksi awal infeksi. Kekurangjelian ini misalnya, ayam yang menunjukkan gejala awal Koriza tidak segera dipisahkan dan diobati sehingga cepat menular pada ayam yang sehat. Apalagi, didukung oleh sanitasi paralon air minum yang jelek (kotordan berlumut).

Sementara itu, penyebab utama penyakit viral umumnya adalah jumlah virus lapangan yang akumulatif sangat tinggi, sehingga zat kebal hasil vaksinasi tidak mampu mengatasi infeksi virus tersebut, baik Al, ND, atau IB. Hal ini didasarkan atas hasil titer zat kebal 2 atau 3 minggu setelah vaksinasi, di mana umumnya hasil titernya sangat tidak seragam. Hasil titer nilai terendah sampai tertinggi selisihnya sangat jauh.

Faktor pendukung munculnya penyakit tersebut, selain perubahan cuaca yang sangat ekstrem adalah manajemen kandang yang buruk (kandang kotor, becek, saluran pembuangan air yang jelek), pengendalian parasit (terutama lalat) dan yang terutama buruknya manajemen seluruh operator kandang. Hal ini sangat mempen garuhi tidak keluarnya potensi ayam petelur tersebut secara optimal. Selain itu, peternak juga harus memperhatikan kualitas pakan yang diberikan dan ketersediaan air minum yang lebih dan cukup. Dengan manajemen komprehensif, masalah penyakit dan semua hal terkait pemeliharaan ayam petelur niscaya dapat dikendalikan.

Perlunya Kedisiplinan Dalam Program Pemeliharaan Ayam

Dan pengalaman seorang penanggungjawab kesehatan hewan di sebuah grup peternakan di Singkawang, Kalimantan Barat, dapat diambil kesimpulan bahwa titik kritis pemeliharaan ayam petelur terletak pada disiplin program pemeliharaan yang diterapkan. Salah satu peternakan yang menjadi tanggung jawabnya adalah peternakan unit 5. Pada saat itu, bibit ayam atau DOC tengah dimasukkan sejumlah 40.000 ekor. Sebelumnya juga telah masuk 40.000 ekor. Kesadaran dari pengetahuan terhadap tugas sejak awal pemeliharaan ini patut dimiliki oleh para pekerja kandang. 

Penerapan program secara baik dan disiplin akan membuat peternak selalu yakin saat memasukkan ayam ke kandang lagi. Pekerja yang mengerti pekerjaan ini akan mendukung peningkatan kualitas kinerja, produksi, serta hasilnya. Kebutuhan tentang hal ini sangat terasa di peternakan di Kalimantan Barat. Lantaran, kualitas SDM (sumber daya manusia) di sini belum sebaik kualitas SDM di Jawa. Maka, menjadi tugas dan tanggung jawab dokter hewan lapangan untuk terus membimbing para anak kandang atau SDM tersebut.

Dengan demikian, program yang dicanangkan dalam pemeliharaan ayam sejak awal masa pemeliharaan selalu dijaga dengan alur berpikir yang benar. Alur berpikir yang benar ini menjadi lokomotif dan setiap tindakan manajerial di unit-unit kandang. Alur berpikir benar ini antara lain pada tiap pergantian pakan harus ada koordinasi. Koordinasi yang berjalan baik ini bertujuan untuk menjaga mutu pakan ayam tetap berada di puncak kualitas. Jangan sampai pakan rusak diberikan pada ternak.

Rupanya para pekerja tersebut belajar dari pengalaman sebelumnya, yakni peternak pernah mengganti pakan tanpa adanya pemberitahuan. Hal ini menyebabkan manajemen peternakan menjadi kacau, yang akhirnya berpengaruh pada terganggunya produksi ayam. Pada saat itulah kemudian ahli ternak mengoreksi pemberian pakan itu sesuai dengan kaidah ilmu yang benar. Mereka memberi kan vitamin khusus untuk ayam yang bermasalah akibat pemberian pakan yang tidak benar itu. AIhasil, tiga hari kemudian, setelah pakan ayam ditambahi vitamin, produksi kembali stabil. Kematian pun berhenti, lalu setelah itu berat badan ayam naik.

Kasus kematian pada ayam peternak harus ditangani sebaik baiknya, jika perlu hingga berhenti sama sekali. Hal ini merupakan syarat mutlak agar ayam yang hidup dapat ditangani untuk kemudian meningkatkan produksi. Kemungkinan, dehidrasi pun dapat saja terjadi dan menyebabkan kematian pada ayam masa produksi. Artinya, bila hal ini tidak ditangani maka akan berakibat fatal.

Disiplin dalam program pemeliharaan juga berarti disiplin untuk memantau kondisi kesehatan ayam. Dalam hal ini, mutlak dibutuhkan keahlian mendiagnosis setiap kelainan dan penyakit ayam. Salah satu contoh kasus kekeliruan diagnosis pernah terjadi, yakni kasus penyakit IB (Infectious Bronchitis) dikacaukan dengan diagnosis ND (Newcastle Disease). Hal ini lantaran terjadi kematian ayam akibat serangan ND sebelum ayam mencapai puncak produksi. Kondisinya, pada saat umur 30 minggu ayam sudah dikelilingi penyakit IB. Diketahuinya penyakit IB, bukan ND, adalah saat produksi telur anjlok pada saat ayam umur 34-36 minggu. Pada saat ayam berumur 40 minggu, kasus ini tidak lagi dapat ditangani jika kejadiannya sudah parah. Produksi pun akan gagal.

Selain kesaahan itu, banyak kasus lain mengenai kesalahan diagnosis dan penyakit ayam ini. Misalnya, suatu kasus didiagnosis AI (Aviafl Influenza), padahal kasusnya adalah ND diikuti IB. Kasus kasus semacam ini ditemukan pada semua unit yang dijumpai telah mengaiami kegagaLan vaksiflasi. Kesalahannya ternyata karena faktor manUSia.

Program dan keahLian yang dijaiankan secara tepat senantiasa bermanfaat. Hal ini ditUnjukkan saat peternak memutuskan revaksinasi ND pada kasus IB disertai kasus ND tersebut. RevakSinasi ND itu gunanya untuk mengatasi kasus kematian ayam yang disebab kan oleh serangan ND. Adapun, vaksinasi dilakukan dikandang yang berbeda tapi dengan program sama. Setetah direvaksinasi, memang rnungkinan kegagalannya hampir sama. Tapi setelah revaksinasi ND dilakukan, kasus kematian dapat diatasi. Ini merupakan keberhasilan pertama.

Keberhasilan kedua, adalah ayam direvaksinasi IB dan kese ragaman produksi telur yang telah rusak akibat serangan virus IB pun dapat teratasi. Kasus-kasus yang acapkali dijumpai di peternakan adalah 50 persen kasus produksi. Sedangkan yang 0,6 persen adalah kasus kematian.

Di sisi lain, apa pun programnya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing peternakan. Berhasil di satu peternakan, belum tentu sesuai dengan peternakan lainnya, unit peternakan lain pun pasti punya program tersendiri. Contohnya, di salah satu peternakan, perubahan program vaksinasi dibatalkan. Hal ini karena kondisi ayam di peternakan tersebut sudah baik. Peternak juga tidak boleh mengubah-ubah program sembarangan. Perhitungannya harus sangat cermat agar penurunan angka kematian dan kenaikan berat badan ayam bisa maksimal.

Memang program vaksinasi killed merupakan program yang masuk akal. Meskipun melakukan vaksinasi merupakan pekerjaan yang meletahkan, namun manfaatnya sangat besar. Dan penerapan program ini, akan dapat dicapai perbandingan angka kematian, berat badan, dan keseragaman badan ayam yang baik. Dalam arti, produksi ayam akan bagus. Kematian DOC sebesar 0,6 persen saja sudah termasuk kategori bagus. Demikian juga pemantauan pemeliharaan pullet sehari-hari harus selalu dilakukan agar nilai pemeliharaannya masuk kategori baik.

Begitulah tanggung jawab ahli kesehatan hewan dan timnya untuk setalu memantau kondisi ayam petelur yang dapat berubah dan waktu ke waktu. Bila pemeliharaan pullet saja tidak berhasil, maka peternakan dianggap gagal. Sebagaimana puta penanganan ayam di masa breeding, pullet dan broiler, harus mencapai katagori bagus.

Mengenal Penyakit Imunitas Yang Menyerang Ayam Petelur


Banyak terjadi kasus penyakit yang bersifat kompleks dan men yangkut permasalahan imunitas alias penyebab turunnya kekebalan ketahanan tubuh ayam. Penyakit imunitas inilah yang menjadi titik kritis dan gangguan pemeliharaan ayam petelur. Penyakit ini timbul lantaran imunosupresi di mana kekebaLan tubuh tertekan sehingga kekebalan yang diharapkan terbentuk dengan baik tidak terjadi dengan sempurna. Penyebab dan mekanisme munculnya ini unosupresi ini bermacam-macam. Yang permanen apabila adanya penyakit yang menyebabkan kerusakan pada organ-organ pembentuk kekebalan seperti Gumboro yang dapat merusak bursa fabrisius, Marek’s merusak timpa dan hati, Avion Influenza (AI) yang merusak semua sel termasuk sel darah merah. Jetas, salah satu penyakit yang kompLeks dan menyangkut imunitas tersebut adaLah penyakit AI. 

Ada fenomena baru khusus di ayam petelur, yakni gangguan AI pada peternakan. Akibat penyakit AI baru ini, matinya ayam tidak langsung banyak, berbeda dengan waktu sebelumnya yang datam hitungan menit atau jam ayam sudah habis. Akibat serangan AI, angka kematian ayam cuma 5-10 persen sehari. Namun demikian, hari-hari selanjutnya ada kematian lagi. Untuk mencegah ayam habis akibat serangan penyakit ini, peternak mengupayakan isolasi dan menjual ayam yang masih hidup. Dengan demikian, meluasnya virus AI secara horizontal dapat terjadi dengan mudah. Bahkan, penularan dapat terjadi secara horizontal ke ayam petelur yang selama ini sudah divaksin AI. Sifat penyebaraan virus AI di lapangan memang sangat tuas, termasuk burung liar yang jumlahnya cukup banyak dan juga pada ayam pedaging. 

Untuk mencegah makin meluasnya serangan AI tersebut, di kampanyekan secara besar-besaran mengenai pentingnya vaksi nasi AI. Yang paling penting, dinas kesehatan menggerakkan semua pihak untuk melakukan pengendalian AI secara ketat. Kasus AI menjadi pembelajaran semua pihak untuk terus memelihara ayam dengan manajemen kesehatan dan biosecurity yang ketat. Kalau hal ini tidak dilakukan secara disiplin, niscaya tak mustahil penyakit penyebab gangguan imunitas akan terus menjadi titik kritis pemeli haraan ayam petelur.

Mengenal Indukan Kambing Betina dan Pejantan Unggul


Induk, Jantan maupun betina, yang akan digunakan dalam pembibitan sebaiknya memiliki track record yang baik. Selain itu, induk yang berkualitas akan menghasilkan anak yang berkualitas juga. Dengan demikian, peternak akan Iebih efektif dan efisien dalam biaya pemeliharaannya. Bahkan, peternak akan mendapatkan keuntungan tinggi secara finansial karena bibit yang jelas kualitasnya memiliki nilai jual tinggi. Untuk mendapatkan induk berkualitas, peternak harus mengetahui ciri-ciri induk betina dan pejantan yang baik.

1. lnduk betina 
Kambing induk betina dipelihara untuk tujuan perkawinan, lalu akan melahirkan anak sehingga diperlukan induk yang sehat dan subur serta memiliki kemampuan melahirkan melahirkan sekaligus menyusui.

Adapun ciri-ciri fisik induk betina yang berkualitas baik antara lain sebagai berikut.
  • Bentuk tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, bulu lunak dan mengilap, tubuh besar, tetapi tidak terlalu gemuk. 
  • Penampilan jinak dan sorot mata ramah. 
  • Kaki urus dan tumit tinggi. 
  • Jumlah gigi Iengkap, tinggi rahang atas dan bawah rata. 
  • Berasal dan kelahiran kembar. 
  • Ambing tidak terlalu menggantung dan bentuknya simetnis dengan puting. 
  • Sudah pernah melahirkan maksimal dua kali dengan jumlah anak dua ekor per kelahiran. 
  • Bebas dari penyakit. 
2. Pejantan 
Pejantan yang baik mampu menghasilkan sperma yang unggul sehingga betina yang dikawininya bisa bunting. Selain itu, betina akan menghasilkan anak yang berkualitas unggul yang berasal dari sperma unggul. Jadi, sebelum dikawinkan, harus dipilih dahulu induk jantan yang baik. Mulai dari postur tubuh, sampai tingkah lakunya. 

Adapun cini-ciri fisik pejantan yang berkualitas baik, di antaranya sebagai benikut : 
  • Tubuh besar dan relatif panjang. Bagian belakang tubuh lebih besar dan lebih tinggi. Dada lebar dan tidak terlalu gemuk. 
  • Alat kelaminnya normal dan simetnis serta sering terlihat ereksi. 
  • Memiliki pertumbuhan yang relatif cepat. 
  • Penampilan gagah, aktif, dan siap mengawini induk yang sedang birahi .
  • Berasal dan kelahiran kembar. 
  • Berumur berkisar 1,5 - 3 tahun. 
  • Bebas dan penyakit.

Teknik Jitu Pemijahan Indukan Lele


Pemijahan adalah salah satu rangkaian dan proses pembenihan lele. Berikut diuraikan secara singkat teknik pemijahan lele, yang dapat dilakukan pada lahan yang sempit dan menggunakan sarana prasarana yang sederhana.

Menyiapkan media pemijahan 
Pada proses penyiapan media pemijahan ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut.
Menyiapkan bak pemijahan 
Bak yang dipergunakan cukup dengari ukuran 2 x 3 m dengan dalam bak 1m. Bak dicuci dengan larutan permangkanat, dosis 1 sendok teh dicampur dengan 3 liter air atau 5 gr/m3 air.
Menyiapkan kakaban 
Kakaban terbuat dan ijuk yang dibingkai dengan bambu.
Menyiapkan air pemijahan 
Bak pemijahan diisi dengan air setinggi 40 cm. Air yang digunakan adalah air dari PDAM

Memijahkan Lele
Proses memijah lele si antaranya sebagai berikut :
  • Isi bak pemijahan dengan air setinggi 40 cm. 
  • Pasang kakaban hingga menutupi %80 permukaan air. Lepaskan induk-induk lele yang sudah dipilih dengan perbandingan 1 betina dan 2 jantan. 
  • Proses pemijahan akan terjadi pada malam hari yang ditandai terlebih dahulu adanya kejar-kejaran antara induk betina dan jantan mengitari kakaban. 
  • Amati pada pagi han, telur-telur sudah dilepas dan menempel pada seluruh permukaan kakaban. 
Menetaskan telur
Setelah pemijahan berhasil, maka selanjutnya adalah menetaskan telur dengan mengikuti langkah berikut ini :
  • Menyiapkan bak penetasan telur, bersihkan terlebih dahulu bak-bak dengan permangkanat. 
  • Isi air penetasan setinggi 40 cm, pindahkan/angkat kakaban masukan ke dalam bak yang sudah disiapkan. 
  • Telur-telur yang terbuahi terlihat kuning transparan dan akan menetas setelah 34 jam sampai dengan 48 jam dikeluarkan oleh induk. Anak ikan yang keluar dan telur masih sangat kecil dan lemah. Badan transparan dan kalau dilihat dengan mikroskop akan terlihat masih mengandung kuning telur. Telur-telur yang tidak terbuahi berwarna kuning susu dan tidak akan menetas serta akan membusuk. 
Pemeliharaan larva
Setelah telur lebih dari 48 jam dan sudah terlihat banyak yang menetas maka kakaban diangkat secara hati-hati. Larva yang baru beberapa hari menetas kondisinya masih sangat lemah. Larva ini tidak memerlukan pakan tambahan sampai menunggu kandungan kuning telurnya habis. Kandungan kuning telur akan habis setelah menetas tujuh hari. Untuk menjaga mortalitas yang tinggi perlu dipasang aerasi. 

Setetah kandungan tujuh hari, kandungan kuning telur sudah habis dan harus segera diberi pakan tambahan dan luar. Pakan bisa berupa kuning telur yang diblender. Pakan ini diberikan setiap pagi dan sore, dengan perkiraan satu butir telur untuk 5000 ekor. Sedangkan untuk pemberian pakan cacing rambut dapat diberikan setelah 11 hari. 

Indukan lele yang akan dipijahkan harus diberikan pakan yang baik agar dapat menghasilkan benih yang baik. Indukan lele setiap hari diberikan pakan daging bekicot atau ikan rucah. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore dengan dosis 10% dari berat badan.